Jakarta, 19 Juli 2026 — Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bersama PT Pandu Biosains dan Illumina menyelenggarakan seminar tuberkulosis bertajuk “Implementing Targeted Next-Generation Sequencing for Drug-Resistant TB: Strengthening Clinical Decision-Making and Future TB Care in Indonesia” di The Westin Hotel, Jakarta.
Seminar ini menjadi forum diskusi bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas perkembangan penanganan tuberkulosis (TB), khususnya TB resistan obat (TB-RO), serta potensi pemanfaatan targeted Next-Generation Sequencing (tNGS) dalam mendukung pengambilan keputusan klinis dan penguatan program pengendalian Tuberkulosis di Indonesia.
Memperkuat Komitmen terhadap Pengendalian Tuberkulosis
Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum PDPI, Dr. dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS, FISR, yang menyampaikan komitmen PDPI untuk terus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi dalam penanganan Tuberkulosis, termasuk melalui pemanfaatan targeted Next-Generation Sequencing.
Sesi pembukaan kemudian dilanjutkan oleh Direktur Utama PT Pandu Biosains, Ibu Ria Putri Rahmadani, bersama Head of Region AMEA Illumina, Nilesh Shah. Sebagai sponsor kegiatan, Pandu Biosains dan Illumina menegaskan dukungan terhadap pengembangan teknologi genomik serta kolaborasi untuk memperkuat upaya pengendalian Tuberkulosis di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, menyampaikan pentingnya pemberantasan Tuberkulosis sebagai salah satu prioritas nasional. Beliau juga memaparkan peta jalan implementasi targeted Next-Generation Sequencing untuk pemeriksaan TB di Indonesia sebagai salah satu langkah strategis untuk meningkatkan deteksi resistansi obat serta mendukung pengambilan keputusan klinis.

Diskusi Multidisiplin tentang Tuberkulosis dan tNGS
Talk session menghadirkan lima pembicara dari berbagai institusi dan dipandu oleh dr. Ni Luh Putu Eka Arisanti, Sp.P(K), FISR, dari RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah. Diskusi membahas situasi Tuberkulosis di Indonesia, tantangan implementasi di lapangan, pengalaman penggunaan tNGS, hingga peluang penguatan surveilans dan layanan TB.
dr. Meilina Farikha, M.Epid., dari Tim Tuberkulosis Ditjen P2, memaparkan situasi terkini TB di Indonesia serta strategi dan program prioritas pengendalian TB. Dalam paparannya, targeted Next-Generation Sequencing juga dibahas sebagai teknologi yang berpotensi mendukung surveilans nasional melalui data resistensi obat yang lebih komprehensif.
Dari sisi implementasi klinis, Dr. dr. Heidy Agustin, Sp.P(K) dari RSUP Persahabatan membagikan pengalaman penerapan tNGS di salah satu rumah sakit rujukan nasional TB. Pemanfaatan tNGS disebut dapat memberikan molecular insights yang lebih mendalam dan actionable untuk mendukung pengambilan keputusan klinis pada kasus TB resistan obat, sekaligus berpotensi memberikan masukan bagi pengembangan kebijakan pengendalian Tuberkulosis.
Sementara itu, dr. Bony Wiem Lestari, M.Sc., Ph.D., dari RC3ID Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, membagikan pengalaman riset pemetaan Tuberkulosis di Jawa Barat. Tim RC3ID telah mengimplementasikan targeted Next-Generation Sequencing menggunakan Deeplex Myc-TB pada instrumen MiSeq i100 dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam layanan TB. Pengalaman tersebut juga telah dituangkan dalam policy brief dan publikasi ilmiah sebagai referensi untuk pengembangan layanan serupa di berbagai wilayah Indonesia.
Tantangan Implementasi tNGS untuk TB Resistan Obat
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K), MHPE, FISR, yang mengangkat berbagai tantangan klinis dalam tata laksana TB resistan obat di Indonesia.
Implementasi tNGS untuk deteksi TB-RO tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga ekosistem pendukung yang komprehensif. Hal tersebut mencakup standardisasi interpretasi hasil, penguatan alur layanan, serta kolaborasi antara organisasi profesi dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung penerapan teknologi secara lebih luas.
Dari perspektif teknologi genomik, Fajar Muhamad, Ph.D., dari Illumina, menjelaskan pemanfaatan teknologi genomik untuk mendukung program kesehatan nasional, khususnya dalam pengendalian Tuberkulosis. Paparan juga mencakup contoh implementasi targeted Next-Generation Sequencing di sejumlah negara dalam penguatan kapasitas genomik, pengumpulan data terkait TB resistan obat, serta surveilans nasional.
Strategic Dialogue: Menuju Implementasi tNGS yang Lebih Terintegrasi
Setelah talk session, seluruh narasumber mengikuti strategic dialogue untuk mendiskusikan peran targeted Next-Generation Sequencing dalam mendukung program nasional penanggulangan Tuberkulosis.
Diskusi menyoroti kesiapan Indonesia dalam mempercepat eliminasi TB, kebutuhan akan molecular insights yang lebih komprehensif, serta berbagai aspek yang perlu diperkuat agar teknologi tNGS dapat diintegrasikan secara lebih luas ke dalam layanan Tuberkulosis di Indonesia.

Workflow Demonstration: tNGS untuk Tuberkulosis
Sebagai penutup acara, Aldo Al Deanov dari PT Pandu Biosains mempresentasikan sesi tNGS workflow demonstration. Sesi ini memperkenalkan MiSeq i100, instrumen sequencing dari Illumina yang dirancang dengan instalasi dan pengoperasian sederhana serta dapat digunakan untuk berbagai aplikasi genomik di lingkungan rumah sakit maupun laboratorium.
Dalam demonstrasi tersebut, peserta juga mendapatkan gambaran mengenai workflow Deeplex Myc-TB, solusi tNGS yang digunakan untuk mengidentifikasi resistansi terhadap 15 obat anti-TB dan menghasilkan laporan analisis yang ringkas serta mudah dipahami oleh klinisi.

Kolaborasi untuk Masa Depan Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia
Seminar ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah, institusi rumah sakit, akademisi, peneliti, serta mitra teknologi dalam memperkuat pengendalian Tuberkulosis di Indonesia.

Pemanfaatan teknologi genomik, termasuk targeted Next-Generation Sequencing, menjadi salah satu pendekatan yang dibahas untuk mendukung ketersediaan data molekuler yang lebih komprehensif, khususnya dalam menghadapi TB resistan obat. Melalui diskusi dan pertukaran pengalaman lintas institusi, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi serta mendorong pengembangan layanan berbasis genomik untuk mendukung upaya eliminasi Tuberkulosis di Indonesia.
PT Pandu Biosains mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, narasumber, dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) atas partisipasi dan dukungannya dalam Seminar Nasional Tuberkulosis ini.












