Di negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tinggi seperti Indonesia, batuk kronis, penurunan berat badan, hemoptisis, dan lesi paru pada foto toraks hampir otomatis mengarah pada dugaan TB. Namun, tidak semua yang tampak seperti TB benar-benar TB. Beberapa laporan kasus dan studi klinis menunjukkan bahwa kanker paru dapat muncul dengan gambaran klinis dan radiologis yang sangat mirip dengan TB, bahkan hingga menyerupai massa infeksi aktif. Kondisi ini sering disebut sebagai “The Great Imitator” dalam konteks paru. Ketika dua penyakit serius ini saling menyerupai, konsekuensinya bisa signifikan.

Mengapa TB dan Kanker Paru Bisa Terlihat Sama?

Literatur dari berbagai laporan kasus dan publikasi di jurnal respirologi menunjukkan bahwa kesamaan ini bukan sekadar kebetulan.

1. Gejala Klinis yang Bertumpuk

Baik TB maupun kanker paru dapat menimbulkan:

  • Batuk kronis
  • Hemoptisis (batuk darah)
  • Penurunan berat badan drastis
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Keringat malam

Tanpa pemeriksaan lanjutan, gejala ini hampir tidak dapat dibedakan secara klinis.

2. Gambaran Radiologi yang Mirip

Pada CT scan atau foto toraks:

  • TB dapat membentuk lesi nodular atau massa dengan spikulasi
  • Kanker paru juga muncul sebagai massa padat dengan karakteristik serupa
  • Keduanya dapat menunjukkan aktivitas metabolik tinggi pada PET Scan

PET Scan mendeteksi peningkatan metabolisme sel. Masalahnya, baik sel kanker maupun jaringan inflamasi TB aktif sama-sama menunjukkan uptake tinggi, sehingga hasilnya dapat sama-sama “positif”.

Seberapa Sering Salah Diagnosis Terjadi?

Beberapa studi rumah sakit menunjukkan bahwa sekitar ±30% pasien kanker paru sempat menerima terapi anti-TB sebelum diagnosis kanker ditegakkan secara definitif. Hal ini lebih sering terjadi di wilayah dengan prevalensi TB tinggi, di mana pendekatan klinis sering mengedepankan kemungkinan TB terlebih dahulu.

Pemeriksaan radiologi konvensional memiliki keterbatasan karena:

  • Lesi granulomatosa TB dapat menyerupai tumor
  • Inflamasi kronis dapat membentuk massa
  • Respons terhadap terapi TB kadang dijadikan uji coba diagnosis

Pendekatan “trial pengobatan TB” tanpa konfirmasi mikrobiologis atau patologi dapat menyebabkan:

  • Keterlambatan diagnosis kanker paru
  • Penggunaan obat yang tidak tepat
  • Progresi penyakit yang lebih lanjut sebelum terapi kanker dimulai

Dalam kanker paru, waktu adalah faktor yang sangat krusial.

Menggeser Paradigma: Dari Dugaan Klinis ke Kepastian Molekuler

Di sinilah pemeriksaan molekuler dan genomik memiliki peran penting.

1. Next-Generation Sequencing (NGS) pada Kanker Paru

Teknologi NGS memungkinkan analisis mutasi genetik pada jaringan tumor, termasuk mutasi seperti:

  • EGFR
  • ALK
  • KRAS
  • BRAF
  • dan target molekuler lainnya

Profiling genomik tidak hanya membantu memastikan bahwa lesi tersebut merupakan kanker, tetapi juga menentukan terapi target yang paling tepat.

2. Liquid Biopsy: Alternatif Minim Invasif

Selain biopsi jaringan, panel genomik berbasis darah (liquid biopsy) memungkinkan deteksi mutasi tumor melalui sirkulasi DNA tumor (ctDNA). Keunggulannya:

  • Prosedur lebih minim invasif
  • Dapat dilakukan ketika biopsi jaringan sulit
  • Membantu monitoring terapi

Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada asumsi klinis semata.

Mengapa Genomik Semakin Penting?

Dalam konteks TB menyerupai kanker paru, pemeriksaan genomik menawarkan tiga nilai utama:

1. Kecepatan

Tidak perlu menunggu respons terapi TB selama berminggu-minggu untuk memastikan diagnosis.

2. Ketepatan

Terapi target dapat diberikan sejak awal berdasarkan mutasi spesifik.

3. Kepastian

Membedakan inflamasi infeksi dari proliferasi sel ganas hingga tingkat molekuler.

Di Negara Endemik TB, Akurasi Menjadi Kunci

Tingginya prevalensi TB memang membuat kecurigaan awal terhadap TB menjadi logis. Namun, di era precision medicine, pendekatan berbasis dugaan saja tidak lagi cukup.

Ketika massa paru muncul dengan karakter ambigu, kombinasi:

  • Radiologi
  • Patologi
  • Pemeriksaan molekuler
  • dan profiling genomik

menjadi strategi yang lebih komprehensif untuk menghindari keterlambatan diagnosis.

Penutup

TB dan kanker paru dapat terlihat sangat mirip, baik dari gejala, radiologi, hingga aktivitas metabolik pada imaging. Namun di tingkat molekuler, keduanya sangat berbeda. Genomik dapat membuka jalan untuk:

  • Diagnosis yang lebih dini
  • Terapi yang lebih tepat sasaran
  • Perbaikan outcome klinis pasien

Dalam dunia onkologi modern, kepastian molekuler bukan lagi pilihan tambahan melainkan kebutuhan.

Referensi:

  1. Hammen I. Tuberculosis mimicking lung cancer. Respir Med Case Rep. 2015;16:45–47. doi:10.1016/j.rmcr.2015.06.007. 
  2. Aviani J, Maulana EH S, Haryatie I, Raharjo F, Sutanto YS, Setijadi A. The delay in the diagnosis of lung cancer due to misdiagnosis as pulmonary tuberculosis. Jurnal Respirologi Indonesia. 2017 Oct 17;37(4):288–292.